Untuk bapakku di perantauan

Pak, mengapa bapak begitu santai menghadapi saya yang kelewat santai?

Bapak juga sebenarnya tau kan kalau saya ini lambat?

Bapak juga tau kalau saya banyak berdrama?

Banyak beralasan.

Kalau masalah kerjaan, sepertinya bapak percaya begitu saja kepada saya.

Tapi mengapa bapak malah pengen saya bercerita tentang ‘drama lucu itu?

Bapak telah berhasil menebak drama apa yang sebenarnya terjadi. Kok bisa sih pak?

Saya yang tadinya tidak ingin bercerita, keluar semua pada akhirnya.

Sampai ku bertanya, “Pak, ga ada bahasan lain apa? Masa ini mulu.”

Bapak jawab, “Abis cuma ini yang lucu.”

Saya suka bagaimana Bapak menanggapi ‘drama lucu’ itu dengan lawakan.

Membuat saya terhibur.

Dan saya baru sadar bahwa dengan cara itu bapak menenangkan saya.

Mengajarkan saya, bahwa saya harus bisa cuek.

Bahwa hidup harus terus berjalan. Dengan sederhana.

Terima kasih Pak.

Bapak mau menerima saya sebagai anak bimbingan yang bisanya cuma cerita masalah ‘drama anak SMP’.

Mendengarkan cerita ‘drama lucu’ saya, dan meresponnya dengan cara yang tidak bisa saya lupa.

Saya akan mengingat saat saat dimana tanpa ragu saya masuk ke ruangan bapak ketika pagi, siang atau sore hari, kemudian bercerita, tersenyum dan tertawa lepas, meski saat itu saya tidak membawa kabar apa apa.

Untuk bapakku di perantauan, bapak di hati saya sejak 7 tahun yang lalu hingga selamanya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *