Pesona Dibalik Puncak Papandayan yang Tersembunyi

Garut adalah sebuah wilayah dengan gugusan gunung-gunung yang menawan. Papandayan, Cikuray, dan Guntur adalah gunung-gunung dengan pesonanya tersendiri. Papandayan hingga kini pun tetap menarik untuk dijelajahi.

Papandayan, 26-28 2012

OWA (Observasi Wahana Alam), himpunan mahasiswa pecinta alam Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor, melakukan pendakian gunung Papandayan. Gunung ini terletak di kecamatan Cikajang kabupaten Garut. Rabu (26/12) pukul 08.30 WIB, bis jurusan Jakarta-Garut mengantarkan kami dari Ciawi, Bogor ke terminal Guntur, Garut selama sekitar enam jam. Perjalanan dilanjutkan menuju terminal kawah yang merupakan terminal terakhir dengan menggunakan mini bus dan dilanjutkan pick up selama sekitar satu jam. Terminal kawah merupakan tempat registrasi bagi pendaki. Panorama yang indah menemani kami sepanjang perjalanan menuju kawasan tersebut. Hamparan sawah, aliran air sungai, dan  tegaknya gunung Cikuray yang diselimuti awan menambah semangat kami.

Kamis (27/12) yang cerah pada pukul 07.00 WIB adalah awal pendakian kami menuju salah satu puncak gunung Papandayan. Puncak gunung Papandayan ini tidak terlihat di awal track yang kami lalui. Awal perjalanan kami disambut dengan bebatuan kawah. Kawah Papandayan diapit oleh tebing batu yang tinggi. Langkah kaki kami juga disambut oleh alunan suara bumi disertai hembusan gas belerang. Masker menjadi barang yang wajib dipakai untuk melaluitrack sepanjang kawah. Perjalanan sepanjang kawah pun dihiasi oleh bebatuan dengan belerang yang berwarna kuning kehijauan. Tak hanya itu, pada bagian atas kawah terdapat hutan mati. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan di awal pendakian.

Keluar dari kawasan kawah, kami memasuki kawasan dengan pepohonan yang cukup homogen kemudian menyeberangi sungai beraliran air yang jernih. Setapak demi setapak langkah kaki ini mengantarkan kami ke suatu jalan di atas tebing. Tampak gugusan gunung yang diselimuti awan. Keindahan itu terus menemani kami hingga tiba di Pondok Saladah pada pukul 08.56 WIB. Pondok Saladah adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kawasan yang tidak terlalu luas ini sering kali menjadi tempat singgah para pendaki termasuk kami. Para pendaki dapat memanfaatkan air yang mengalir melalui kawasan ini. Air tersebut merupakan mata air gunung Papandayan yang dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar kawasan gunung Papandayan.

Track awal menuju puncak Papandayan (Photo by Eka Arismayanti)

Perjalanan dilanjutkan dari Pondok Saladah pada 10.48 WIB. Trackyang tidak begitu curam namun licin membuat kami harus lebih berhati-hati. Samping kanan dan kiri track tersebut sebagian besarditumbuhi oleh paku-pakuan dan tumbuhan famili Melastomaceae.Pemandangan menakjubkan kembali menyambut kami. Kami tiba di areal berumput yang ditumbuhi edelweis (Anaphalis javanica) di beberapa titik. Kami mendirikan tenda di areal ini, begitu pula para pendaki lain. Areal ini dikelilingi oleh gunung dengan hutan lebat dan hutan mati yang terletak di sebelah timur.

Areal perkemahan para pendaki (Photo by Liyana Salsabila)

Detik demi detik kami lalui bersama udara dingin yang menusuk. Keesokan harinya (28/12) sekitar pukul 04.45 WIB, kami melangkahkan kaki menuju puncak Papandayan. Berbekal senter dan air minum, kami menembus dinginnya udara pagi hari. Jalan yang harus kami lalui merupakan jalan berbatu. Sering kali kami merangkak untuk melewatinya. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati track yang licin sehingga kaki ini harus beribu kali lebih waspada. Namun semua itu tidak sebanding dengan keindahan padang edelweis yang kami jumpai. Edelweis di areal ini tumbuh subur dan lebat. Tetesan embun pagi itu manambah kecantikannya. Walaupun belum bermekaran, tetapi keindahannya tidak berkurang sedikit pun.

Padang edelweis di puncak Papandayan (Photo by Liyana Salsabila)

Tak berapa lama, kami segera beranjak menuju tempat yang lebih menakjubkan. Kami harus melewati  semak-semak untuk sampai di tempat ini. Tiba di tempat tersebut, kami dapat melihat gugusan gunung-gunung yang berdiri tegak. Pagi itu, langit biru dan hamparan awan putih membentang dengan indah bagai samudera di atas awan. Sang mentari bak mengintip di ufuk timur. Kawasan hutan mati dan kawah Papandayan pun tampak mempesona. Semuanya berada pada formasi yang harmoni. Aku menghela napas. Inilah sebagian kecil keindahan yang tak terkira dari sebuah negeri bernama Indonesia.

“Terima kasih Tuhan,” lirih kami di 2622 mdpl, titik tertinggi gunung Papandayan yang tersembunyi.

Panorama pagi yang indah tampak dari puncak Gunung Papandayan, Garut. (Photo by Liyana Salsabila)
Pesona Dibalik Puncak Papandayan yang Tersembunyi

Bogor, 05 Januari 2013

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *