Tidak lagi

Bagaimana perasaan kamu saat melihat orang yang bertahun tahun kamu sebut namanya dalam doa, sekarang sudah menemukan masa depannya?

Haruskah ikut berbahagia?

Bagaimana perasaan kamu saat tahu bahwa dia tidak akan lagi menengok ke arahmu?

Haruskah aku biasa saja?

Sini, aku ingin bercerita.

Mungkin ini jawaban atas kegundahan sedari dulu.

Entah mengapa saat itu kita mulai bertegur sapa, meski tidak secara tatap muka.

Dan berlanjut ke dalam sebuah percakapan yang dalam, dan semakin dalam.

Berlangsung selama waktu, yang bisa dibilang, tidak singkat juga.

Sudah sejak dari awal ku berkata.

Cari saja orang lain yang punya niatan sama.

Aku tidak ingin menjadi penghalang.

Masih ada yang harus ku selesaikan. Iya, itu alasan.

Meski pada akhirnya aku dan dia sepakat untuk saling bertukar berita.

Baiklah, tak ada salahnya mencoba.

Hari demi hari bertukar berita.

Pun tanpa ragu, mencurahkan rasa.

Bosan misalnya.

Aku dan dia hanya bertemu dalam waktu yang singkat singkat saja.

Namun semakin lama.

Semakin tak berasa.

Entahlah.

Tibalah pada satu waktu dimana dia membuatku berdrama.

Dan untuk kesekian kalinya aku berkata.

Cari saja lagi! Kamu tau maksudku apa.

Sesak.

Dari situ aku sadar, aku memang tidak pandai.

Dia lelah. Lambat laun dia mundur.

Perlahan, tak ku terima lagi kabar darinya.

Sesekali hanya berbalas sepatah dua patah kata.

Semenjak itu, tidak ada lagi nama yang kusebut dalam setiap doa.

Mungkin tidak akan kusebut lagi sebuah nama.

Yang terbaik saja.

Continue Reading