Begitulah

Saat pertama kali berkenalan dengan orang yang selanjutkan kusebut teman, aku menampakkan sisi terbaikku.

Berusaha ramah, asik, dan terbuka, hingga bisa tertawa bersama.

Semakin sering aku berinteraksi dengannya, semakin besar kesempatan untuk tidak sependapat.

Tak lagi tawa yang menghiasi, aku mulai menampilkan sisi burukku.

Dan saat sesuatu yang dianggap sebagai masalah datang, disitu saat aku tampil apa adanya.

Itulah saat dimana dia tetap tinggal atau memutuskan pergi.

Pada akhirnya, orang akan ditinggalkan dan meninggalkan. Begitupun aku.

Continue Reading

Senyum

Kalau ada yang bertanya, mengapa jarang tersenyum?

Bilang saja, biar tidak bertambah keriput di muka.

Senyum saja lah!

Senyum dong!

Senyummu manis.

Senyummu adalah sedekah.

Senyumlah saat suka!

Pun saat duka.

Adakah yang salah dengan senyum saat berduka dalam dada?

Kadang iya.

Merasa bersalah karena senyum saat hati ini tidak baik-baik saja.

Merasa kecewa karena pandai menutupi luka.

Pernahkah terpikir begitu?

Aku sering.

Saat kamu tidak memasang senyum di wajahmu, orang-orang menjadi pandai menerka.

Bukan karena kamu penting.

Mungkin itu karena kamu mengganggu mereka.

Dan akhirnya membuat dirimu bertambah lara.

Oke aku tau, senyum bisa meredakan luka.

Akan ku coba.

Aku akan terus berusaha.

Mulai sekarang.

Mulai saat aku menulis ini.

Kamu lihat senyumku?

Ingatlah lekat-lekat!

Itu senyum termanisku untuk mu.

Continue Reading

Kamu : hasil dari proses di masa lalu

Kamu dihasilkan dari sekian lama proses yang telah dilewati.

Hasil dari kamu yang dipuji dan dibanggakan.

Hasil saat kamu ditolak dan dicampakkan.

Akumulasi dari kamu yang ada tapi tidak dipedulikan.

Begitu pula saat hanya 1 orang yang berjiwa besar menerima segala kekurangan.

Atau bahkan saat dimana hanya aliran darah yg sibuk meng-‘hidup’-kan sel-sel tubuhmu yang kaku.

Kamu tidak sendiri. Pikiran dan hatimu selalu setia meresponmu.

Begitu pun mikrob yang ada di tubuhmu tanpa kamu sadari.

Dan tentu, masih ada Tuhan yang kamu percaya.

Berbagai hal yang kamu liat dan rasakan membuatmu berpikir dan membentuk cara berpikirmu.

Dan sekian lamanya membuatmu menjadi kamu yang sekarang, juga setumpuk pikiran tentang apa yang ingin kamu lakukan di masa depan.

Tak hanya itu, proses membuatmu bergelut dengan ketakutan dan kekhawatiran tentang masa depan, yang kamu tahu, itu belum tentu terjadi.

Itu membentuk cara pandangmu terhadap dunia, dan lebih dalam melihat dirimu sendiri.

Lalu kamu akan berada pada titik dimana kamu berterima kasih pada masa lalu, pada bagian-bagian yang menurutmu pahit, pada orang-orang yang ada saat itu.

Kamu tidak mampu melupakan itu, sedalam apapun kamu menguburnya.

Semakin kamu ingin melupakan, semakin ia lekat lekat di pikiranmu.

Dan sekali lagi aku bilang, kamu akan tiba pada saat dimana kamu mengingat-ingat kembali rasa pahit di masa lalu, yang tanpa sadar membuatmu menjadi kamu yang sekarang.

Dan kamu tidak benci (lagi) tentang itu.

Kamu telah berdamai dengan mereka.

Menerima mereka menjadi bagian dari dirimu.

Hingga kamu berkata, “Alhamdulillah”.

Continue Reading

Sampai Jadi Debu

Aku duduk sambil menatap jendela

Tidak diam

Benda ini membawa ku dari Jakarta menuju Surabaya

Sawah kering berlalu

Sesekali hijaunya malu malu

Sambil ku nikmati sebuah lagu

Dengan makna yg begitu dalam

Pun ditulis dari hati yang terdalam

Continue Reading

September pagi ini

Hari ini membawaku pergi ke bulan januari.

Langit pagi ini tidak seperti biasanya, kali ini abu-abu.

Udara pagi ini, dingin, tidak seperti yang lalu lalu.

Matahari pun datang ditemani rintik hujan, tidak seberani dulu.

Bukan aku yang ingin mengingat masa itu.

Tapi september pagi ini mengajakku..

Continue Reading