Hayoloh

Aku masih ingat saat kamu datang, perlahan-lahan menawarkan diri menjadi teman.

Aku pun menyambutmu layaknya teman baru.

Hingga tiba saat aku merasa kehilangan diri sendiri.

Kamulah orang yang aku ceritakan bagaimana perasaanku saat itu.

Kamu pun mendengarkan, memberi saran, dan yang tak pernah aku lupa adalah bagaimana kamu menghiburku di masa-masa itu.

Saat aku merasa kehilangan diriku sendiri dan kehidupanku, kamulah yang perlahan-lahan menbantuku berdiri.

Aku pun merasa kamu adalah orang yang bisa menguatkan rapuhku, lemahku, juga menenangkan batin dan pikirku.

Memang, aku sangat jarang memberi perhatian, tidak seperti kamu.

Hingga tibalah saat jenuh, mungkin itu yang kamu rasakan setelah sekian lama menghadapiku.

Kamupun menghilang. Tidak lagi ada sapaan hangat darimu di awal pagi, apalagi ucapan penutup hari.

Satu, dua, hingga beberapa hari kamu menghilang bergandengan dengan waktu.

Apakah pikirmu, aku akan menanyakan keadaanmu?

Aku tidak akan melakukan itu, meskipun aku ingin.

Terasa berat, kehilangan seseorang yang aku percaya. Bodohnya, aku menaruh harapan.

Mungkin orang bilang, aku tak cukup berusaha membuatnya tetap ada. Tapi, satu hal yang ada dalam benakku, aku tidak ingin bermain-main lagi dengan siapapun dalam pusaran waktu.

Karena bila aku menyakiti, aku juga yang merasa tersakiti.

Sekian waktu tanpamu, tanpa kamu berkabar sebagaimana kamu biasanya, aku menjadi berpikir dan mempertimbangkan banyak hal.

Meski sekarang kamu datang lagi, dan bilang kalau kamu melakukan itu dengan suatu alasan, sayangnya kamu tidak memberi tahu itu padaku.

Apakah aku akan bertanya? Tidak.

Menaruh harap pada siapapun, sudah tau itu sakit, masih saja ku ulangi.

Memang benar, orang datang dan pergi dengan satu alasan.

Hmm, mungkin kamu datang sebagai obat di saat itu.

Continue Reading

Saling memaafkan

Di hari raya, semua orang saling meminta maaf dan memaafkan.

Namun, satu hal yang harusnya tidak terlupa adalah memaafkan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri.

Membebaskan diri dari perangkap pikiran sendiri.

Menerima diri sendiri, bagaimana pun masa lalu pernah merenggutnya dalam satu waktu.

Menghargai diri dengan yakin dan percaya diri, bawa diri ini mampu bertahan dan memaknai, seperti apa pun keadaannya.

Jelas, yang bisa melakukannya adalah diri sendiri.

Continue Reading

Transit

Kutipan ini diambil dari webseries yang berjudul Transit episode 3. Sehingga kata itulah yang ku tulis sebagai judul. Ya, terus mau diberi judul apa lagi? Begini kutipannya…

“Ada jeda di setiap kejadian, ada transit di setiap perjalanan.

Begitupun di tengah kehidupan antara masa lalu dan masa depan.

Ada satu waktu yang luput dari pergerakan, antara ingin maju atau melangkah mundur.

Transit disini… waktu yang tepat untuk semua orang memberi dan menerima kesempatan kedua.

Banyak keputusan baru yang diambil di titik transit.

Ada juga hal yang harus direlakan untuk sesuatu yang lebih berharga.

Terlebih kita menyadari, dibalik kerelaan tersebut ada bahagia tersembunyi, bukan hanya untuk diri kita sendiri namun dibagikan ke banyak orang.”

Bagaimana? Transit dulu saja, istirahat dulu, ambilah jeda!

Continue Reading
1 2 3 29