Blue Fire Kawah Ijen : Fenomena yang Menakjubkan

Jadi, setelah sekitar 1 bulan berlalu (tepatnya 17 Oktober), akhirnya aku menuliskan ini. Aku ingin mengabadikan perjalanan impianku yang akhirnya menjadi kenyataan.

Yeay, finally BANYUWANGI!!!

Banyuwangi merupakan salah satu wish list ku nomer pertama. Nggak tau kenapa, mungkin termakan iklan dan postingan temen. Pengen banget rasanya liat Blue Fire langsung! Uuuu! 

Blue fire adalah destinasiku yang terakhir selama di Banyuwangi. Karena saat itu aku sendirian, aku ikut paket wisata yang sharing gitu lho, jadi bayar sekitar Rp 250.000,00 per orang dan kamu bakal trip gabung sama wisatawan lain, entah domestik atau mancanegara . Biaya segitu udah termasuk transportasi, sewa masker berfilterdan tiket masuk kawasan Gunung Ijen. Waktu itu aku berangkat dari pelabuhan Ketapang, karena pas banget abis ada acara di sekitar situ. Aku dijemput sekitar jam 12 malam. Kenapa malam? Karena blue fire hanya bisa dinikmati antara jam 02.00 sampai 04.00 WIB. Nah lanjut, dari pelabuhan Ketapang langsung beranjak ke daerah kota Banyuwangi untuk jemput rombongan lain. Eh ternyata 2 orang doang, kali ini bule dari Spanyol.

Oh iya, kalau mau jalan ke Kawah Ijen, jangan bingung karena belum join tour agent! Pas di Banyuwangi, daerah Ketapang sih, ada aja yang nawarin sharing trip mulai dari penjaga hotel sampe penjual nasi padang. Tinggal pinter-pinter nego harga aja. 

Dari kota Banyuwangi, perjalanan dilanjutkan ke titik pendakian pertama di kawasan Gunung Ijen, namanya Paltidung. Disana kita bisa nyewa baju anget, kalo emang pas ga bawa. Wajib pake baju anget sih, di atas dingin banget oy! Selain itu juga ada yang jual sarung tangan, air mineral, dan banyak juga warung penjual makanan.

Di Paltidung, kalo pas langit malam cerah, kamu bisa liat bintang di langit yang gelap (bukan di langit yang biru ya), pokoknya amat banyak menghias angkasa. Beneran itu indah banget, dan aku excited karena baru pertama kali liat bintang sebanyak itu berkelap kelip. Literally, itu cuma bisa diabadikan di memori otak. Kamera hp ku ga cukup canggih buat capture langit seindah itu, hehe.

Dari titik pertama pendakian, kita bakal dipandu sama guide lokal. Waktu itu aku dipandu sama Pak Firman yang aslinya pengemudi “taksi” di Gunung Ijen. Jadi kalo lagi rame wisatawan, beberapa pengemudi “taksi” ini dialihtugaskan menjadi guide, dan cukup bisa berbahasa inggris. Kalo guide beneran sih ada juga yang bisa bahasa spanyol dan bahasa lain.

Pas nanjak, jangan bawa barang barang nggak penting! Cukup bawa air mineral dan obat-obatan kalo dirasa perlu. Berat-beratin aja cuy, ujung-ujungnya nyusahin guide-nya karena dia yang bawain. Iya, itu pengalamanku kemaren, hihi.

Pendakian berlangsung sekitar 2-3 jam untuk sampai di puncak. Karena saat itu aku serombongan bareng bule, jadi kecepatan pendakian cukup banget bikin ngos-ngosan. huuuuh! Jalannya lumayan curam sekitar 2.8 km, tapi sekitar 200 meter sebelum bibir kawah, jalanan mulai landai. Nanti sepanjang perjalanan, sesekali liat langit untuk memastikan bintangnya masih banyak apa nggak, krik krik. Hmm, anginnya juga cukup kenceng pas mau nyampe puncak. Nah dari puncak juga bisa keliatan kelap kelip lampu kota Banyuwangi. Oiya, di pertengahan jalur pendakian itu ada warung plus toilet. In case, kamu kebelet.

Kalo ga mau capek jalan untuk ke puncak, dan budget memungkinkan, kamu bisa naik “taksi”. Ada paket naik-turun, paket naiknya saja atau turunnya saja. Harganya lumayan sih menurutku.

Setelah nyampe puncak, kamu bakal turun sedalam kurang lebih 200 meter atau berjalan kaki sekitar 800 meter menuju dasar kawah. Jalurnya berupa jalan setapak di tebing kaldera. Jadi, jalannya antri banget disitu, dan disitu aku baru sadar bahwa kebanyakan yang antri adalah wisatawan mancanegara. Jalannya juga harus ekstra hati-hati karena kerikil yang bikin tergelincir. Tapi tenang, ada guide yang siap berpegangan tangan.

Sebelum sampai dasar kawah, kamu harus pake masker berfilter karena asapnya itu bikin sesak dan pedih di mata. Di dasar kawah, kamu bakal menyaksikan aktivitas penambang sulfur dan tentunya yang kamu cari, BLUE FIRE, yang cuma ada di 2 gunung berapi aktif di dunia yaitu di Islandia dan satunya ya di Gunung Ijen ini. Letupan api biru yang kamu saksikan saat itu membuat lelahmu luntur perlahan-lahan dan yang tersisa hanyalah rasa takjub.

Pertanyaannya, kenapa bisa apinya berwarna biru? Setelah browsing, ternyata karena reaksi oksidasi antara sulfur atau belerang dengan panas bumi bertekanan tinggi. Dan itu terjadi secara kontinu. Reaksi pembakaran itulah yang menghasilkan panas dan cahaya berwarna biru. Fenomena ini juga ada di siang hari, tapi jadinya nggak keliatan biru.

Beberapa orang ramai ramai mengabadikan blue fire. Aku sih nggak bisa, alhasil guide-nya lagi yang memotretkannya untukku, untuk si bule tadi juga. Ini hasilnya.

Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen

Di dasar kawah, kamu juga bisa nyoba angkat belerangnya, terus capture deh! Eits berat banget tapi, beratnya bisa mencapai 90 kg. Bisa bayangin gimana para penambang memikul segitu beratnya belerang sejauh 800 meter dan nanjak sampe ke puncak? Langsung otakku nge-play lagunya Ebiet G Ade yang judulnya Titip Rindu Buat Ayah. Hidup emang berat bro!

Lanjut!

Penambangan sulfur (Dokumen pribadi)

Tunggulah disitu sampai jam 5-an untuk menikmati pemandangan pagi di kawah ijen. Asli itu bagus banget. Pantulan cahaya dari danau membuat kamu narik napas dalam-dalam, dan mengucap syukur. Jangan lupa, coba deh liat berkeliling ke atas, katakan ‘hai!’ pada tebing-tebing kawah yang gagah. Katakan selamat pagi pada semesta!

Hey, ketinggalan nih satu lagi, selama di dasar kawah, kamu bisa ambil air danaunya yang asem itu. Buat apa? Kata guide-nya sih buat obat kulit, jerawat dan gatal-gatal misalnya.

Tebing kawah gunung Ijen (Dokumen pribadi)

Sudah puas berkenalan dengan paginya kawah ijen? Kalau sudah, langsung kita cus pulang melalui rute yang sama. Huh ngos-ngosan lagi! Tapi liat coba pemandangannya!

Kawah gunung Ijen (Dokumen pribadi)

Tiba di bibir kawah, lagi-lagi kamu bakal disuguhi dengan pemandangan tiada duanya. Percaya deh!

Pas di bibir kawah, kamu bakal ditawarin lagi naik “taksi”. Kali aja cape gituuu. Di sini juga biasanya ada yang jual cenderamata berupa ukiran dari sulfur dengan bermacam-macam bentuk unik.

 

Suasana pagi di bibir kawah Ijen (Dokumen pribadi)

Kalau masih tidak jauh dari bibir kawah, kamu bakal lihat gunung-gunung berselimut awan. Saat itu aku dikasih tunjuk gunung Raung. Bahkan katanya puncak gunung Merapi juga bisa kelihatan dari puncak gunung Ijen.

Pemandangan yang dilihat dari bibir kawah Ijen (Dokumen pribadi)
Pemandangan yang dilihat dari bibir kawah Ijen (Dokumen pribadi)

Perjalanan turun lumayan agak licin karena jalurnya berkerikil. Jadi hati-hati ya dan jangan sampai jauh dari guide yang siap menggandeng kamu, eh membantu kamu maksudnya. Perjalanan turun ini tentunya lebih cepat daripada nanjak, sekitar jam 7 pagi kamu udah sampai di Paltidung.

Itu dia pengalamanku main ke kawah ijen. Seru!

Aku pulang dengan senyum lebar, tandanya suka dan berharap bisa main lagi ke Banyuwangi. Beneran deh, mau lagi!

Eh tunggu, pulang dari kawah Ijen dapet bonus ke air terjun kembar. Niiih..

Air Terjun Kembar, Gunung Ijen (Dokumen pribadi)

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *