Gitulah

Hukum berstatus di media sosial

Yang pasang status siapa

Yang tersindir siapa

Yang komen siapa

Yang ribut siapa

Eh, taunya yang bikin status itu buat dirinya sendiri

Duh, ke-GR-an

Ngabisin energi lagi buat galau berkepanjangan

Iya, siapa aja yang baca status boleh merasa

Namanya juga manusia, punya perasaan

Merasa aja terus kalo gak capek!

Tapi, siapa aja yang baca status boleh gak merasa juga, yakaaan?

Continue Reading

Ngacapruk #48

Aku ingin merasakan kamu

Sama seperti aku merasakan dinginnya udara pagi di tempat itu

Iya, tempat itu rumahku

Aku ingin merasakan kamu

Sama seperti asinnya masakan di rumahku

Walau asin, aku menikmatinya

Aku ingin bersama kamu

Orang yang membuatku tenang di tengah riuh dan bisingnya kehidupan

Di tengah ramainya pikiran yang kubuat sendiri

Ini hanya sekedar keinginan

Continue Reading

Ngacapruk #47

Aku gila sendiri

Mati tanpa perlawanan

Mati tanpa minta pertolongan

Tuhan kasih karunia

Jiwa

Raga

Aku buang seperti percuma

Aku menyaksikan diri ini mati

Perlahan lahan

Memberikan semua pada kekalahan

Aku ingin seperti mereka

Tersenyum

Berbahagia dengan apa yang mereka punya

Tapi ketakutan ini sungguh menyebalkan

Dia memaksaku menyerah

Tak ada teman untuk melawan

Hanya benteng yang tinggi

Continue Reading

Ngacapruk #46

Adakah di sana yang bisa mengajariku bagaimana caranya mengendalikan diri?

Bernegoisasi dengan emosi

Dan pandai menempatkan diri

Sehingga tidak membuat orang lain risih

Payah

Aku hanya memikirkan diriku sendiri

Tak pandai menghargai diri

Bisanya membuat orang lain bingung, tak mengerti

Iya, dunia memang jelas bukan hanya tentangku

Continue Reading

Bad mood?

Kalau kamu sedang BT, kesal, marah, bad mood, atau semacam itulah pokoknya,

Dan kamu merasa tidak mampu menyembunyikan raut wajahmu

Kamu merasa terlalu ekspresif

Tapi, yang terlalu itu tidak baik kan?

Ujung-ujungnya bisa menular ke orang di sekelilingmu

Padahal mereka tidak tahu apa-apa, uuuh kasihaaan !

Kamu tahu solusinya?

Temanku pernah bilang, “Saat kamu dalam suasana itu, pakai masker saja!”

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk menyembunyikan bibirmu yang cemberut.”

“Loh kenapa? Padahal aku kan cantik kalo lagi bad mood dan cemberut.”

“Apalagi kalau kamu pakai masker, kamu jauh lebih cantik.” jawabnya.

Continue Reading

Januariku

Januariku waktu itu adalah pagi hari.

Rintik hujan, dingin, dan sesekali angin.

Aroma kopi milik teman+temanku menjalar sepanjang sel saraf dan masuk dalam otakku.

Saat itu, kami tidur di ruangan bernama laboratorium.

Ini bukan laboratorium sebagai nama kiasan.

Yang ku maksud adalah laboratorium sungguhan.

Kami mengerjakan sesuatu, mencari jawaban dan pertanyaan-pertanyaan baru.

Mengapa harus melewatkan malam di laboratorium? Payah.

Namun, saat itu begitu lekat di ingatan.

Apa yang aku cari tak kunjung jua ku dapati.

Temanku pun (mungkin) begitu.

Satu tahun berlalu, setelah satu tahap kami raih, kami melakukan hal yang sama lagi.

Januari, pagi hari, dingin, dan laboratorium (lagi).

Tapi kali ini ada pelangi yang menemani.

Beberapa saat ia menghiasi langit pagi.

Seperti sebuah drama, semua terasa berarti.

Sudahlah.

Hujan di pagi hari memang identik dengan Januari, kan?

Continue Reading

Baju

Mamaku bisa menjahit baju.

Dulu, ia sering menjahitkan baju untukku.

Dari model baju yang aku senangi, hingga model yang aku tak pernah ingin pakai.

Semakin waktu berlalu, semakin jarang mama menjahitkan baju untukku.

Mungkin tahu bahwa anaknya tak akan pakai bila tak sesuai keinginan.

Satu waktu, entah mengapa aku ingin mama yang menjahitkan bajuku.

Termasuk baju untuk hari-hari besar dalam hidupku.

Meski mama sering menjahitnya ulang karena tak sesuai inginku, ia lakukan saja.

Iya, setiap untaian benang pada baju itu seolah menghadirkan kasih sayangnya.

Dan saat aku pakai baju itu, aku merasakan ada ketulusan dalam setiap jahitannya.

Continue Reading

Terlena

Aku cukup menikmati detik-detik ini

Menjauhkan diri dari apa yang seharusnya aku bereskan

Seolah-olah tidak ada yang harus aku kerjakan

Semakin lama semakin tak terasa

Semakin tak ingin kembali bergerak mewujudkan asa

Aku terlena di tempat ini

Terbuai dalam kesenangan semu

Dan perlahan membawa ku ke titik terendah

Perlahan mematikanku

Sementara waktu terus berlalu

Mengapa aku tetap terpaku?

Continue Reading
1 2 3 10